SAMBUTAN TANPA TEKS PAKDE KARWO
PADA SILATURAHMI SENIMAN BUDAYAWAN
SE-JAWA TIMUR DI DISPARTA JAWA TIMUR
(Surabaya, 02 September 2010)
Ditulis Ulang : Dian Sukarno *)
Assalamualaikum Warohmatullohi Wabarakatuh…
Bismillahirohmanirohim Alhamdulillahirobil alamin Washolatu wassalam muala asrofil anbiya wal mursalin sayidina wamaulana Muhammadin waala alihi waashobihi ajmain. Amaba’du.
Pak Sek sama Ibu saya hormati, Pak Jariyanto beserta rombongan semuanya, temen-temen SKPD, ee…Ajenan Fauzi, kelangkong gih? Mari kita semua mengucapkan syukur ke hadirat Allah Subhanahuwataalla, dengan luruh syukur agar nikmat berikutnya diberikan kita terus-menerus. Amin Allohuma Amin.
Bapak Ibu sekalian para undangan, terutama temen-temen seniman, budayawan yang hadir, e…Pak Jariyantolah cerita yang telah kita lakukan. Tapi saya pengin mengajak bagaimana e…kehidupan ini menjadi semakin bermakna kalau kebudayaan, kesenian dikembangkan. Kita memberikan roh estetika di dalam kehidupan ini dengan kesenian dan kebudayaan.
Saya bisik-bisik sama Pak Sek , karena itu dulu kreasi Pak Sekda,”Itu amplopnya berapa Pak Sek?”
“Satu juta.”
“Sudah lama?”
“Sudah.”
“E…PADnya naik ndak?”
“Naik Pak.”
“Ditambah cukup nggak?”
“Tahun depan Pak, nggak sekarang.” (tepuk tangan membahana)
“Ya udah, nanti dirunding aja. Pokoknya saya setuju.”
Yang kedua saya minta Pak Fauzi cs, strategi kebudayaan kita di Jawa Timur itu harus seperti apa, dirumuskan. Kita akan siapkan e...komunitas di Gentengkali sebagai komunitas kebudayaan, kita tata…ya itu menjadi komunitas kebudayaan.
Saya kira kita masih inget jaman Balai Pemuda di belakang itu digunakan untuk komunitas kebudayaan tahun-tahun 70-an, 80-an pada waktu itu. Di sanalah kumpul seniman, e… siapa saja kumpul di sana. Dari suasana ini timbul dan banyak sekali kreasi-kreasi di komunitas itu. Bukan tempatnya yang baik, tapi gumbulnya sama kelompoknya itu yang kemudian memberikan kreasi… (tepuk tangan membahana)yang luar biasa.
Pak Fauzi saya usul strategi tadi, maka saat kita di ruangan ini ACnya hidup, biarpun kalau hujan bocor sedikit. Lampunya kita disuguhi suasana yang guyub seperti ini. AC yang dingin, tempat yang teduh ini hanya satu kebahagiaan fisik saja. Phisical hapines seperti ini, keluar sedikit sudah sumuk lagi. Tapi orang kemudian mencari bagaimana kemudian kebahagiaan fisik ini diisi dengan kebahagiaan tentang kecerdasan. Bagimana sebetulnya e orang yang cantik. Orang yang cantik ini saya ekstrimkan ndak apa-apa ya? Bude ya, Bude..?! (hadirin tertawa) Saya ekstrimkan ya Bude,ya? Cantik tapi bodho, ketemu seorang yang pinter tapi buruk muka. Ada beuty and the beast, yang diharapkan oleh orang tuanya dua-dua ini, semoga anaknya itu bagus dan cerdas. Tapi bisa anaknya itu buruk, tapi juga bodho. Maka biarpun di kesenian, biarpun di kebudayaan, kecerdasan seperti yang disampaikan oleh e…Ki Hajar Dewantara, bahwa puncak-puncak kebudayaan nasional adalah puncak-puncak kebudayaan daerah, kita belum menemukan kecerdasan kita merumuskan puncak-puncak kebudayaan daerah. Apa sebetulnya meaning full dari puncak kebudayaan daerah itu? Bukan I Love You Full, meaning full. Apa ini?
Saya berpendapat, biar ada historisnya, ada valuesnya, ada heronya. Misalkan, saya rundingan sama Pak Sek sama Pak Jariyanto, di daerah kita ini ada imperium besar yang namanya Mojopahit. Ada ndak Bedhaya Mojopahit itu? Ada nggak? Apakah kita harus kethokan mosaik kecil-kecil yang belum pernah ditata seperti ini. Apa imperium besar?
Saya kemarin ke Osaka. Orang Osaka kagum dengan Mojopahit. Orang dari Vietnam, Okinawa, kagum. Sekarang kapalnya pergi ke sana. Kapal Mojopahit, dibuat di pulau Sapudi, Kangean Sapudi. Jalan ke sana. Apa yang dikenang tentang tingginya kebudayaan Mojopahit?
Kalau kita kemudian, Pak Fauzi dan temen-temen seperti apa? Ini hanya kalau udun itu hanya pucuknya atau manifesnya. Jadi bedhaya Mojopahit itu hanya titik manifes untuk menangkap substansi besarnya kebudayaan dan seni di Jawa Timur. Seperti apa? La itu yang kemudian akan menjadi perenungan refleksi kita yang pada pembangunan restorasi Mojopahit tahap satu yang insyaallah selesai tahun 2014, inilah budaya besar jaman itu. Ini harus dishearcing, harus dicari. Oleh siapa? Oleh ahlinya, oleh seniman-budayawan seperti apa? Jadi jangan sampai nanti kita mencari lagi seperti yang diharapkan anaknya bagus tapi cerdas. Jangan sampai justru kita cari merusak. Jadi sudah buruk muka bodho. Jangan!
Makanya saya masuk setelah happiness di bidang fisik, harus ditingkatkan hapines di bidang intelektual, yang ketiga happiness di bidang estetika. (tepuk tangan bergemuruh) Jadi di sana kita masuk. Ndak ada gunanya pembangunan di Jawa Timur ini berkembang maju, tidak ada gunanya kemudian berbagai pembangunan fisik dan berbagai anak bangsanya cerdas, tetapi akar budayanya larut. Saya kira bukan itu. Bukan itu yang dimaksud oleh…Oleh pikiran-pikiran yang sekarang berkembang, bahwa negara yang sangat kuat itu adalah kuat di dalam kebudayaan bangsa itu. Buku-buku terkenal yang sekarang ngonceki bagaimana untuk India dan China, Jepang, Korea dia kuat aceapmentnya, rasa bertarungnya kuat itu karena nilai-nilai kebudayaan yang itu digali.
Jangan sampai penggalian kebudayaan ini justru tabrakan merusak dari kebudayaan ini. La saya bisa saja hanya menyampaikan, tapi ahlinya adalah e…Mas Fauzi dan teman-teman. Seperti apa? Tugas kami menyiapkan. Maka usulnya Pak Jariyanto tentang lembaga-lembaga itu untuk disubsidi setuju saya. Setuju, harus! Harus…(tepuk tangan membahana) Harus dilakukan. Harus dilakukan utnuk berkembang, untuk memelihara, untuk memelihara. Tetapi setelah dipelihara bagaimana itu kemudian? Bagaimana masyarakat itu dimaknai menjadi hasilnya, ditanggab oleh masyarakat bagaimana itu? Ini yang saya kira Mas Fauzi CS, mohon betul untuk difikirkan. Kami fasilitasi kok suatu saat.
Tahun lalu kita mencoba jamkesni, jamkesbud. Sudah jalan Pak Wawi? Sudah, berapa itu? Nanti dicek apakah temen-temen ini, karena saya baca tulisan di koran bahwa itu ternyata Pakde itu omong kosong di media. Nanti dicek uangnya sudah ada, tinggal Pak Wawi dengan seniman untuk kerjasama.
Jadi memberikan subsidi terhadap kelompok-kelompok budaya yang pasti secara administrasi terakreditasi oleh kelembagaan. Jangan sampai nanti ndak ada kegiatan, nanti kita bantu. Ini saya kira usul Pak Jariyanto e…sependapat. Ini pikiran-pikiran bagus yang diusulkan.
Yang berikutnya…
Pak Jariyanto dan saya dibisiki Bude tadi, “Ini juara nasional,” saya belum bisa menikmati tariannya, biarpun juara satu. Tapi sebagai penari itu bagus. Jangan sampai biasanya penari itu badannya ramping, tapi kalau lengenne guedhe-gedhe itu kan bukan penari. (hadirin tepuk tangan) Ini bagus, tapi saya narinya belum bisa menikmati. Karena saya aliran konvensional di dalam…Jadi nari iku ya penari. Jangan sampai PGI, Persatuan Gemuk Indonesia…ha…ha…ha…Jadi nari itu ya trincing gitu lo. Nggih Pak Sek,nggih? (hadirin tepuk tangan). Saya dibisiki Bude, la ini penari, ini bagus,ini bagus. Jadi kadang-kadang kita menjadi tidak profesional, karena nggak tegel. Nggak tegel, nggak tegel, nggak tegel. Jadi nari estetika, keindahan itu yang kemudian diletakkan dan kemudian maknawinya.
Oleh sebab itu saya mengusulkan bedhaya Mojopahit itu isinya tiga. Satu isinya selamat datang, kedua syukur, ketiganya membuang sangkal. Jadi jangan hanya tarian buang sangkal saja. Jangan ada tarian syukur saja, jangan ada tarian bermakna selamat datang saja. Tapi tiga-tiganya itu yang mengantar Patih Gajah Mada berperang itu menjadi menang. Acheapmentnya luar biasa karena ditransformasi oleh nilai budaya itu.
Saya kira itu harus segera saya hentikan pidato ini, kalau tidak sulit sekali menghentikan pidato ini. Karena kalau sudah panas nerocos terus. Jadi memang umur-umur se-saya ini sudah, kalau sudah mesinnya hidup, kuncinya dicopot tidak mati-mati…ha…ha…ha…
Terimakasih…terimaksih seniman-budayawan, saya senang betul. Saya dengan Bude tadi dari rumah,”Aku seneng Bude.” Saya pengin dateng betul karena sebetulnya ada dua acara Bude, tapi memilih di sini dan saya ada acara jam delapan, tapi saya tunda semuanya sampai malem…(hadirin bertepuk tangan). Karena saya pengin jadi orang lagi, jangan orang-orangan. Yang membikin orang jadi orang itu (diulang lagi) untuk membersihkan itu adalah seni. Seni yang mengembalikan orang menjadi orang betulan, tidak orang-orangan.
Terimakasih, moga-moga ini menjadi kerjasama kita yang panjang dan mendalam. Hangat, mendalam, dan panjang.
Pak Sek, Gentengkali rumuskan menjadi komunitas seni dan kebudayaan yang bagus. (hadirin tepuk tangan) Dorong, tidak saja HUT, tapi dorong komunitas-komunitas seni kita bantu. Karena insyaallah ee…pendapatan propinsi Jawa Timur naik terus dan itu harus sebagian dinikmati masyarakat kembali. Salah satunya masyarakat seni. (hadirin tepuk tangan) Makasih wassalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh.
*)Penulis adalah ketua Komite Tari Dewan Kesenian Jombang.
Kamis, 23 Juni 2011
Minggu, 20 Maret 2011
Delapan Tokoh Terima PWI Award 2011....
NASIONAL - HUMANIORA
Sabtu, 19 Maret 2011 , 06:16:00
Delapan Tokoh Terima PWI Award
SURABAYA -- Suasana Aula Grahadi kemarin tampak berbeda. Serombongan tokoh nasional datang untuk menghadiri acara peringatan Hari Pers Nasional (HPN) yang dibarengkan dengan peringatan dua tahun kepempinan pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf sebagai gubernur-wagub Jatim.
Tercatat sebanyak delapan tokoh menerima PWI Award. Yakni, Jusuf Kalla (ketua umum PMI), Andi Alfian Malarangeng (menpora), Anas Urbaningrum (ketua umum Partai Demokrat), Dahlan Iskan (dirut PLN), Soekarwo (gubernur Jatim), Priyo Suprobo (rektor ITS), Achmad Fauzi (ketua Dewan Kesenian Jatim), dan Sahat Tua Simanjutak (ketua pengprov Pertina dan juga anggota DPRD Jatim).
Selain itu, PWI juga memberikan sejumlah penghargaan foto dan tulis dalam Prapanca Award. Juga, ada sejumlah penghargaan khusus, yang antara lain diberikan kepada striker Persema dan timnas Indonesia, Irfan Bachdim.
Dalam sambutannya, Ketua PWI Margiono sempat melontarkan candaan ke Soekarwo. "Lapor Pak Gubernur, semua warga Jatim yang di Jakarta baik-baik saja. Ada yang jadi ketua partai, dan ada yang jadi dirut PLN," katanya, yang disambut senyum oleh Soekarwo.
Ketika didapuk memberi sambutan setelah menerima penghargaan, Dahlan bicara soal banyak hal. Diantaranya adalah optimisme pertumbuhan ekonomi Indonesia. "Sepuluh tahun lalu, pendapatan per kapita di Indonesia hanya USD 1.200. Tapi sekarang USD 3.200, dan bila sepuluh tahun lalu ada ahli ekonomi yang memprediksi 10 tahun lagi pendapatan per kapita sebesar ini, pasti ditertawakan," ucap pria kelahiran Magetan tersebut.
Dahlan optimis bahwa akhir tahun ini, dengan peningkatan pendapatan per kapita seperti ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mengalahkan Belanda. "Bahkan sepuluh tahun lagi mencapai USD 6.000 bahkan USD 9.000," katanya.
Selanjutnya tokoh yang didapuk mendapat penghargaan karena dianggap pembawa perubahan di PLN tersebut bicara soal masalah setrum. Tepat di hari ke 414-nya memimpin perusahaan setrum plat merah tersebut, Dahlan menguraikan kekhawatirannya. Karena ada penurunan debet air, maka listrik di Jawa mengalami kehilangan 1.300 Megawatt. "Suasana kebatinan kami sangat khawatir. Selama ini tidak ada byar pet, karena kami kerja ekstra keras untuk memastikan tidak ada pemadaman," tuturnya.
Selain itu, Dahlan mengungkapkan krisis listrik terjadi di Kangean, Bawean, dan Gili-Ketapang. "Sebenarnya saya tidak pantas merasa mendapat penghargaan ini. Karena masih ada krisis listrik di sejumlah daerah di Jawa. Tapi, kami harapkan akhir tahun ini sudah kami tuntaskan," tambahnya.
Di bagian lain, Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum yang menerima penghargaan di bidang politik mengatakan optimisme juga terlihat dalam bidang politik. "Akan semakin segar, dan kedewasaan masyarakat akan matang," katanya. Dengan nada merendah, Anas mengatakan bahwa dirinya masih sangat muda dan hijau dalam bidang politik. "Ibarat buku, saya ini masih di pembukaan, sementara bapak Jusuf Kalla sudah berada di kesimpulan," tambahnya.
Sementara itu, Soekarwo dipilih karena dianggap berhasil membangun tata perekonomian Jatim sehingga pertumbuhan ekonomi Jatim melampaui pertumbuhan ekonomi nasional. (ano/agm)
Sabtu, 19 Maret 2011 , 06:16:00
Delapan Tokoh Terima PWI Award
SURABAYA -- Suasana Aula Grahadi kemarin tampak berbeda. Serombongan tokoh nasional datang untuk menghadiri acara peringatan Hari Pers Nasional (HPN) yang dibarengkan dengan peringatan dua tahun kepempinan pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf sebagai gubernur-wagub Jatim.
Tercatat sebanyak delapan tokoh menerima PWI Award. Yakni, Jusuf Kalla (ketua umum PMI), Andi Alfian Malarangeng (menpora), Anas Urbaningrum (ketua umum Partai Demokrat), Dahlan Iskan (dirut PLN), Soekarwo (gubernur Jatim), Priyo Suprobo (rektor ITS), Achmad Fauzi (ketua Dewan Kesenian Jatim), dan Sahat Tua Simanjutak (ketua pengprov Pertina dan juga anggota DPRD Jatim).
Selain itu, PWI juga memberikan sejumlah penghargaan foto dan tulis dalam Prapanca Award. Juga, ada sejumlah penghargaan khusus, yang antara lain diberikan kepada striker Persema dan timnas Indonesia, Irfan Bachdim.
Dalam sambutannya, Ketua PWI Margiono sempat melontarkan candaan ke Soekarwo. "Lapor Pak Gubernur, semua warga Jatim yang di Jakarta baik-baik saja. Ada yang jadi ketua partai, dan ada yang jadi dirut PLN," katanya, yang disambut senyum oleh Soekarwo.
Ketika didapuk memberi sambutan setelah menerima penghargaan, Dahlan bicara soal banyak hal. Diantaranya adalah optimisme pertumbuhan ekonomi Indonesia. "Sepuluh tahun lalu, pendapatan per kapita di Indonesia hanya USD 1.200. Tapi sekarang USD 3.200, dan bila sepuluh tahun lalu ada ahli ekonomi yang memprediksi 10 tahun lagi pendapatan per kapita sebesar ini, pasti ditertawakan," ucap pria kelahiran Magetan tersebut.
Dahlan optimis bahwa akhir tahun ini, dengan peningkatan pendapatan per kapita seperti ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mengalahkan Belanda. "Bahkan sepuluh tahun lagi mencapai USD 6.000 bahkan USD 9.000," katanya.
Selanjutnya tokoh yang didapuk mendapat penghargaan karena dianggap pembawa perubahan di PLN tersebut bicara soal masalah setrum. Tepat di hari ke 414-nya memimpin perusahaan setrum plat merah tersebut, Dahlan menguraikan kekhawatirannya. Karena ada penurunan debet air, maka listrik di Jawa mengalami kehilangan 1.300 Megawatt. "Suasana kebatinan kami sangat khawatir. Selama ini tidak ada byar pet, karena kami kerja ekstra keras untuk memastikan tidak ada pemadaman," tuturnya.
Selain itu, Dahlan mengungkapkan krisis listrik terjadi di Kangean, Bawean, dan Gili-Ketapang. "Sebenarnya saya tidak pantas merasa mendapat penghargaan ini. Karena masih ada krisis listrik di sejumlah daerah di Jawa. Tapi, kami harapkan akhir tahun ini sudah kami tuntaskan," tambahnya.
Di bagian lain, Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum yang menerima penghargaan di bidang politik mengatakan optimisme juga terlihat dalam bidang politik. "Akan semakin segar, dan kedewasaan masyarakat akan matang," katanya. Dengan nada merendah, Anas mengatakan bahwa dirinya masih sangat muda dan hijau dalam bidang politik. "Ibarat buku, saya ini masih di pembukaan, sementara bapak Jusuf Kalla sudah berada di kesimpulan," tambahnya.
Sementara itu, Soekarwo dipilih karena dianggap berhasil membangun tata perekonomian Jatim sehingga pertumbuhan ekonomi Jatim melampaui pertumbuhan ekonomi nasional. (ano/agm)
Senin, 14 Februari 2011
Kamis, 10 Februari 2011
utk berbenah benak..
Asuransi Kesehatan untuk Seniman, Perlukah?
Selasa, 6 Oktober 2009 | 14:57 WIB
Oleh M DJUPRI
Gubernur Dr Soekarwo atau Pakde Karwo " sapaan akrabnya" saat membacakan sambutan pada acara silaturahim dan pemberian penghargaan kepada 10 budayawan dan seniman serta tali asih kepada 300 seniman se- Jatim di Graha Wisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jatim, Surabaya, Rabu (9/9), melontarkan gagasan perihal pentingnya asuransi kesehatan untuk seniman. Ide yang dikemukakan Pakde Karwo itu muncul spontan, di luar teks pidato, karena mendapat bisikan Bude Karwo, Ny Nina Kirana Soekarwo, yang hadir mendampingi setelah melihat pelawak Srimulat, Kentus, yang berjalan tampak diglak-digluk karena mungkin terserang asam urat.
Gubernur memberikan beberapa alasan tentang pentingnya asuransi kesehatan terhadap seniman. Pertama, peranan kesenian dalam kehidupan berbangsa memiliki arti penting sebagai bentuk nasionalisme. Kedua, keberadaan kesenian tidak kalah penting dibandingkan pembangunan fisik. Ketiga, seni mampu membersihkan jiwa manusia dan menjadikan kita lahir kembali sebagai manusia. Pakde Karwo juga mengutip pidato Presiden AS John F Kennedy bahwa apabila politik itu kotor, maka kesenian mampu membersihkannya. Juga mencuplik sasanti Jawa bahwa seni mampu membasuh jiwa.
Tentang perlunya pemberian asuransi kesehatan untuk seniman, menurut Gubernur Jatim, merupakan komitmen pasangan Pakde Karwo dan Gus Ipul (Saifullah Yusuf) bahwa Pemerintah Provinsi Jatim memerhatikan kehidupan masyarakat Jatim, termasuk seniman. Ia menganalogikan dengan program sekolah gratis sembilan tahun di Jatim yang menelan anggaran Rp 628 miliar pada tahun 2009-1010. Jika pemerintah mampu membantu biaya sekolah siswa dari keluarga kurang mampu dan gaji guru, hal yang sama tentu dapat dilakukan terhadap seniman.
Pemikiran tentang asuransi kesehatan untuk seniman dapat dilakukan di Puskesmas dan balai pengobatan di Jatim yang berdekatan dengan domisili seniman. Pakde Karwo menjelaskan, "Kalau ada seniman yang sakit batuk atau terkena asam urat, misalnya, bisa berobat ke puskesmas". Sambutan gubernur itu secara spontan mendapat tepukan tangan ratusan seniman yang hadir dalam silaturahmi.
Gagasan Pakde Karwo saya anggap orisinal dan baru kali pertama dikemukakan oleh seorang gubernur. Barangkali gubernur-gubernur lainnya di Indonesia belum berpikir ke arah sana. Namun, gagasan orisinal itu perlu dicermati. Dicermati dengan mencari rujukan berdasarkan hukum sebagai landasan operasionalisasi perlunya pemberian asuransi kesehatan untuk seniman. Dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 32 mengamanatkan: Pemerintah memajukan kebudayaan nasional Indonesia. Ini berarti bahwa pemerintah tidak mengatur urusan pribadi kehidupan seniman, termasuk masalah kesehatannya.
Rancangan Undang-Undang tentang Kesenian belum pernah dibahas oleh anggota legislatif di gedung Dewan Perwakilan Rakyat. Kepedulian Gubernur Jatim terhadap kesehatan seniman merupakan wacana segar yang memungkinkan direalisasikan di era otonomi daerah yang berjalan sejak tahun 2000. Dalam penjelasan Undang-Undang No 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah "yang diperbarui pada tahun 2000" antara lain disebutkan bahwa kepala daerah sebagai pengayom masyarakat harus mampu berpikir, bertindak, dan bersikap dengan lebih mengutamakan kepentingan bangsa, negara, dan masyarakat umum daripada kepentingan pribadi, golongan, dan aliran.
Maka gagasan Gubernur Jatim itu sejalan dengan yang diamanatkan dalam penjelasan Undang-Undang tentang Pemerintahan Daerah. Untuk itu, gagasan asuransi kesehatan untuk seniman perlu tindak lanjut dan mendapat tanggapan positif, terutama dari anggota DPRD Jatim serta instansi terkait lainnya, khususnya Dinas Kesehatan Provinsi Jatim dan pihak manajemen rumah sakit umum milik Pemerintah Provinsi Jatim yang tersebar di daerah kota dan kabupaten. Jika pihak legislatif dan eksekutif memiliki kemauan politik dalam menanggapi gagasan gubernur, cepat atau lambat tentu dapat terealisasikan secara bertahap, pelan- pelan tapi pasti.
Mengingat masa bakti Gubernur Jatim masih kurang empat setengah tahun ke depan, hingga tahun 2014 mendatang, kemungkinan gagasan itu bisa terwujud. Untuk dapat merealisasikan gagasan asuransi kesehatan untuk seniman itu memerlukan pembahasan secara matang antarinstansi dan penggodokan dalam sidang di gedung DPRD yang notabene adalah wakil rakyat dan dituangkan dalam peraturan daerah (perda) sehingga memiliki payung hukum.
Kendati saat ini di tengah masyarakat sebenarnya sudah dipraktikkan asuransi kesehatan untuk keluarga miskin (Askin) yangmengatur pengobatan gratis bagi keluarga tidak mampu di rumah sakit pemerintah. Perlukah asuransi kesehatan untuk seniman? Kita, barangkali, belum memiliki data akurat tentang berapa jumlah seniman di antara 36 juta jiwa penduduk Jatim. Jika diasumsikan bahwa seniman Jatim sekitar 1 persen dari jumlah penduduk, sedikitnya terdapat 3,6 juta jiwa peyandang predikat seniman. Mengingat di Provinsi Jatim memiliki aneka ragam kesenian tradisi yang tersebar mulai dari Banyuwangi sampai Magetan dan dari Sumenep sampai Pacitan.
Kesenian tradisi itu gaya Mataraman, Osing, budaya arek, pedalungan, pesisir mapun pedalaman. Mulai dari tari gandrung, kendang jimbe, kuntulan, wayang krucil, wayang beber, wayang jekdong, tari topeng, reyog, ludruk, macapat, kentrung, kesenian bernuansa Islam, maupun seni modern seperti teater, seni rupa, musik, paduan suara, dan lainnya. Di 38 daerah kota dan kabupaten se-Jatim memiliki andalan kesenian tradisi maupun modern yang sampai sekarang tetap dilestarikan para seniman. Mengingat bahwa menjadi seniman atau pekerja seni adalah profesi, seniman adalah anggota masyarakat seperti profesi lainnya, seperti petani, nelayan, buruh, pedagang, dan lainnya.
Di awal tulisan ini disebutkan, ars longa vita brevis atau seni itu panjang dan hidup itu pendek. Maka, asuransi kesehatan untuk seniman kiranya perlu direalisasikan, setelah Pemerintah Provinsi Jatim terlebih dulu memprioritaskan masalah mengatasi jumlah angka kemiskinan dan pengangguran di Jatim.
M DJUPRI Seniman dan Penulis, Tinggal di Malang
Selasa, 6 Oktober 2009 | 14:57 WIB
Oleh M DJUPRI
Gubernur Dr Soekarwo atau Pakde Karwo " sapaan akrabnya" saat membacakan sambutan pada acara silaturahim dan pemberian penghargaan kepada 10 budayawan dan seniman serta tali asih kepada 300 seniman se- Jatim di Graha Wisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jatim, Surabaya, Rabu (9/9), melontarkan gagasan perihal pentingnya asuransi kesehatan untuk seniman. Ide yang dikemukakan Pakde Karwo itu muncul spontan, di luar teks pidato, karena mendapat bisikan Bude Karwo, Ny Nina Kirana Soekarwo, yang hadir mendampingi setelah melihat pelawak Srimulat, Kentus, yang berjalan tampak diglak-digluk karena mungkin terserang asam urat.
Gubernur memberikan beberapa alasan tentang pentingnya asuransi kesehatan terhadap seniman. Pertama, peranan kesenian dalam kehidupan berbangsa memiliki arti penting sebagai bentuk nasionalisme. Kedua, keberadaan kesenian tidak kalah penting dibandingkan pembangunan fisik. Ketiga, seni mampu membersihkan jiwa manusia dan menjadikan kita lahir kembali sebagai manusia. Pakde Karwo juga mengutip pidato Presiden AS John F Kennedy bahwa apabila politik itu kotor, maka kesenian mampu membersihkannya. Juga mencuplik sasanti Jawa bahwa seni mampu membasuh jiwa.
Tentang perlunya pemberian asuransi kesehatan untuk seniman, menurut Gubernur Jatim, merupakan komitmen pasangan Pakde Karwo dan Gus Ipul (Saifullah Yusuf) bahwa Pemerintah Provinsi Jatim memerhatikan kehidupan masyarakat Jatim, termasuk seniman. Ia menganalogikan dengan program sekolah gratis sembilan tahun di Jatim yang menelan anggaran Rp 628 miliar pada tahun 2009-1010. Jika pemerintah mampu membantu biaya sekolah siswa dari keluarga kurang mampu dan gaji guru, hal yang sama tentu dapat dilakukan terhadap seniman.
Pemikiran tentang asuransi kesehatan untuk seniman dapat dilakukan di Puskesmas dan balai pengobatan di Jatim yang berdekatan dengan domisili seniman. Pakde Karwo menjelaskan, "Kalau ada seniman yang sakit batuk atau terkena asam urat, misalnya, bisa berobat ke puskesmas". Sambutan gubernur itu secara spontan mendapat tepukan tangan ratusan seniman yang hadir dalam silaturahmi.
Gagasan Pakde Karwo saya anggap orisinal dan baru kali pertama dikemukakan oleh seorang gubernur. Barangkali gubernur-gubernur lainnya di Indonesia belum berpikir ke arah sana. Namun, gagasan orisinal itu perlu dicermati. Dicermati dengan mencari rujukan berdasarkan hukum sebagai landasan operasionalisasi perlunya pemberian asuransi kesehatan untuk seniman. Dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 32 mengamanatkan: Pemerintah memajukan kebudayaan nasional Indonesia. Ini berarti bahwa pemerintah tidak mengatur urusan pribadi kehidupan seniman, termasuk masalah kesehatannya.
Rancangan Undang-Undang tentang Kesenian belum pernah dibahas oleh anggota legislatif di gedung Dewan Perwakilan Rakyat. Kepedulian Gubernur Jatim terhadap kesehatan seniman merupakan wacana segar yang memungkinkan direalisasikan di era otonomi daerah yang berjalan sejak tahun 2000. Dalam penjelasan Undang-Undang No 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah "yang diperbarui pada tahun 2000" antara lain disebutkan bahwa kepala daerah sebagai pengayom masyarakat harus mampu berpikir, bertindak, dan bersikap dengan lebih mengutamakan kepentingan bangsa, negara, dan masyarakat umum daripada kepentingan pribadi, golongan, dan aliran.
Maka gagasan Gubernur Jatim itu sejalan dengan yang diamanatkan dalam penjelasan Undang-Undang tentang Pemerintahan Daerah. Untuk itu, gagasan asuransi kesehatan untuk seniman perlu tindak lanjut dan mendapat tanggapan positif, terutama dari anggota DPRD Jatim serta instansi terkait lainnya, khususnya Dinas Kesehatan Provinsi Jatim dan pihak manajemen rumah sakit umum milik Pemerintah Provinsi Jatim yang tersebar di daerah kota dan kabupaten. Jika pihak legislatif dan eksekutif memiliki kemauan politik dalam menanggapi gagasan gubernur, cepat atau lambat tentu dapat terealisasikan secara bertahap, pelan- pelan tapi pasti.
Mengingat masa bakti Gubernur Jatim masih kurang empat setengah tahun ke depan, hingga tahun 2014 mendatang, kemungkinan gagasan itu bisa terwujud. Untuk dapat merealisasikan gagasan asuransi kesehatan untuk seniman itu memerlukan pembahasan secara matang antarinstansi dan penggodokan dalam sidang di gedung DPRD yang notabene adalah wakil rakyat dan dituangkan dalam peraturan daerah (perda) sehingga memiliki payung hukum.
Kendati saat ini di tengah masyarakat sebenarnya sudah dipraktikkan asuransi kesehatan untuk keluarga miskin (Askin) yangmengatur pengobatan gratis bagi keluarga tidak mampu di rumah sakit pemerintah. Perlukah asuransi kesehatan untuk seniman? Kita, barangkali, belum memiliki data akurat tentang berapa jumlah seniman di antara 36 juta jiwa penduduk Jatim. Jika diasumsikan bahwa seniman Jatim sekitar 1 persen dari jumlah penduduk, sedikitnya terdapat 3,6 juta jiwa peyandang predikat seniman. Mengingat di Provinsi Jatim memiliki aneka ragam kesenian tradisi yang tersebar mulai dari Banyuwangi sampai Magetan dan dari Sumenep sampai Pacitan.
Kesenian tradisi itu gaya Mataraman, Osing, budaya arek, pedalungan, pesisir mapun pedalaman. Mulai dari tari gandrung, kendang jimbe, kuntulan, wayang krucil, wayang beber, wayang jekdong, tari topeng, reyog, ludruk, macapat, kentrung, kesenian bernuansa Islam, maupun seni modern seperti teater, seni rupa, musik, paduan suara, dan lainnya. Di 38 daerah kota dan kabupaten se-Jatim memiliki andalan kesenian tradisi maupun modern yang sampai sekarang tetap dilestarikan para seniman. Mengingat bahwa menjadi seniman atau pekerja seni adalah profesi, seniman adalah anggota masyarakat seperti profesi lainnya, seperti petani, nelayan, buruh, pedagang, dan lainnya.
Di awal tulisan ini disebutkan, ars longa vita brevis atau seni itu panjang dan hidup itu pendek. Maka, asuransi kesehatan untuk seniman kiranya perlu direalisasikan, setelah Pemerintah Provinsi Jatim terlebih dulu memprioritaskan masalah mengatasi jumlah angka kemiskinan dan pengangguran di Jatim.
M DJUPRI Seniman dan Penulis, Tinggal di Malang
Sambutan DK-Jatim pada PENGHARGAAN SENI JATIM 2010
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh
Salam Budaya
Penghargaan Seni Jawa Timur ini diberikan setiap tahun sejak 1998 mengiringi keberadaan Dewan Kesenian Jawa Timur dan setiap tahun pula kita melakukan sebuah pembacaan, pemaknaan serta penghormatan atas jejak kreativitas, aktifitas dan capaian kualitas para pelaku kesenian di Jawa Timur. Penghargaan ini dimaksudkan sebagai pengakuan atas dedikasi dan prestasi di bidang seni yang tidak hanya diberikan kepada para seniman individual tetapi juga kepada pelaku seni tradisi yang komunal dan kepada lembaga yang peduli turut menopang kehidupan kesenian. Bahkan sejak tahun ini diberikan pula penghargaan khusus kepada Guru dan Siswa berprestasi dibidang seni.
Tentu penghargaan ini bukanlah singgasana tujuan dari pergulatan berkesenian, kehadiran karya-karya kreatif dan inovatif adalah untuk peradaban, keunggulan nilai-nilai manusia dan kemanusiaan serta memberi kesejahteraan, kebahagian lahir dan batin. Perenungan, penciptaan dan pengungkapan seniman untuk dipersembahkan pada kehidupan, bukan untuk siapa, seorang atau sebagian orang. Untuk semua, untuk sesama, untuk tak sama.
Perhatian dan kesungguhan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam memacu dan memicu proses kreatif tidak hanya berupa pemberian penghargaan ini saja, selain meningkatkan sarana dan prasarana, Gubernur Jawa Timur sejak tahun ini memberikan Jaminan Kesehatan khusus kepada seniman, bahkan mulai awal tahun depan UPTD. Taman Budaya Jawa Timur kembali difungsikan, agar kekayaan ragam budaya ini tidak jadi belantara yang berhukum rimba.
“Asuransi kesehatan ini diberikan bukan karena belas kasihan atau dianggap miskin, tetapi merupakan kewajiban dari pemerintah atas jasa seniman dan budayawan yang telah memberi identitas dan menjaga ketahanan budaya bangsa. Suatu wilayah dikenal bukan hanya karena letak geografisnya, tetapi justru karena identitas budayanya, dan itu diproduksi oleh seniman/budayawan” ini pernyataan Gubernur Jawa Timur yang membanggakan. Satu-satunya di Indonesia.
Atas nama masyarakat kesenian Jawa Timur kami sampaikan terimakasih kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur atas komitmen, dukungan serta simpati yang telah diberikan oleh Gubernur beserta jajaran terkait, serta kami sampaikan pula ungkapan bangga dan selamat kepada para penerima penghargaan seni tahun 2010. Semoga segala upaya dan harapan kita mendapat ridho dari Allah SWT.
Wassalamu’alaikum Warhmatullahi Wabarokatuh
Surabaya, 26 November 2010
ACHMAD FAUZI
Ketua Umum
Salam Budaya
Penghargaan Seni Jawa Timur ini diberikan setiap tahun sejak 1998 mengiringi keberadaan Dewan Kesenian Jawa Timur dan setiap tahun pula kita melakukan sebuah pembacaan, pemaknaan serta penghormatan atas jejak kreativitas, aktifitas dan capaian kualitas para pelaku kesenian di Jawa Timur. Penghargaan ini dimaksudkan sebagai pengakuan atas dedikasi dan prestasi di bidang seni yang tidak hanya diberikan kepada para seniman individual tetapi juga kepada pelaku seni tradisi yang komunal dan kepada lembaga yang peduli turut menopang kehidupan kesenian. Bahkan sejak tahun ini diberikan pula penghargaan khusus kepada Guru dan Siswa berprestasi dibidang seni.
Tentu penghargaan ini bukanlah singgasana tujuan dari pergulatan berkesenian, kehadiran karya-karya kreatif dan inovatif adalah untuk peradaban, keunggulan nilai-nilai manusia dan kemanusiaan serta memberi kesejahteraan, kebahagian lahir dan batin. Perenungan, penciptaan dan pengungkapan seniman untuk dipersembahkan pada kehidupan, bukan untuk siapa, seorang atau sebagian orang. Untuk semua, untuk sesama, untuk tak sama.
Perhatian dan kesungguhan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam memacu dan memicu proses kreatif tidak hanya berupa pemberian penghargaan ini saja, selain meningkatkan sarana dan prasarana, Gubernur Jawa Timur sejak tahun ini memberikan Jaminan Kesehatan khusus kepada seniman, bahkan mulai awal tahun depan UPTD. Taman Budaya Jawa Timur kembali difungsikan, agar kekayaan ragam budaya ini tidak jadi belantara yang berhukum rimba.
“Asuransi kesehatan ini diberikan bukan karena belas kasihan atau dianggap miskin, tetapi merupakan kewajiban dari pemerintah atas jasa seniman dan budayawan yang telah memberi identitas dan menjaga ketahanan budaya bangsa. Suatu wilayah dikenal bukan hanya karena letak geografisnya, tetapi justru karena identitas budayanya, dan itu diproduksi oleh seniman/budayawan” ini pernyataan Gubernur Jawa Timur yang membanggakan. Satu-satunya di Indonesia.
Atas nama masyarakat kesenian Jawa Timur kami sampaikan terimakasih kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur atas komitmen, dukungan serta simpati yang telah diberikan oleh Gubernur beserta jajaran terkait, serta kami sampaikan pula ungkapan bangga dan selamat kepada para penerima penghargaan seni tahun 2010. Semoga segala upaya dan harapan kita mendapat ridho dari Allah SWT.
Wassalamu’alaikum Warhmatullahi Wabarokatuh
Surabaya, 26 November 2010
ACHMAD FAUZI
Ketua Umum
Langganan:
Postingan (Atom)