Kamis, 23 Juni 2011

SAMBUTAN (TANPA TEKS) PAKDE KARWO PADA SILATURAHMI SENIMAN BUDAYAWAN

SAMBUTAN TANPA TEKS PAKDE KARWO
PADA SILATURAHMI SENIMAN BUDAYAWAN
SE-JAWA TIMUR DI DISPARTA JAWA TIMUR
(Surabaya, 02 September 2010)

Ditulis Ulang : Dian Sukarno *)

Assalamualaikum Warohmatullohi Wabarakatuh…
Bismillahirohmanirohim Alhamdulillahirobil alamin Washolatu wassalam muala asrofil anbiya wal mursalin sayidina wamaulana Muhammadin waala alihi waashobihi ajmain. Amaba’du.
Pak Sek sama Ibu saya hormati, Pak Jariyanto beserta rombongan semuanya, temen-temen SKPD, ee…Ajenan Fauzi, kelangkong gih? Mari kita semua mengucapkan syukur ke hadirat Allah Subhanahuwataalla, dengan luruh syukur agar nikmat berikutnya diberikan kita terus-menerus. Amin Allohuma Amin.
Bapak Ibu sekalian para undangan, terutama temen-temen seniman, budayawan yang hadir, e…Pak Jariyantolah cerita yang telah kita lakukan. Tapi saya pengin mengajak bagaimana e…kehidupan ini menjadi semakin bermakna kalau kebudayaan, kesenian dikembangkan. Kita memberikan roh estetika di dalam kehidupan ini dengan kesenian dan kebudayaan.
Saya bisik-bisik sama Pak Sek , karena itu dulu kreasi Pak Sekda,”Itu amplopnya berapa Pak Sek?”
“Satu juta.”
“Sudah lama?”
“Sudah.”
“E…PADnya naik ndak?”
“Naik Pak.”
“Ditambah cukup nggak?”
“Tahun depan Pak, nggak sekarang.” (tepuk tangan membahana)
“Ya udah, nanti dirunding aja. Pokoknya saya setuju.”
Yang kedua saya minta Pak Fauzi cs, strategi kebudayaan kita di Jawa Timur itu harus seperti apa, dirumuskan. Kita akan siapkan e...komunitas di Gentengkali sebagai komunitas kebudayaan, kita tata…ya itu menjadi komunitas kebudayaan.
Saya kira kita masih inget jaman Balai Pemuda di belakang itu digunakan untuk komunitas kebudayaan tahun-tahun 70-an, 80-an pada waktu itu. Di sanalah kumpul seniman, e… siapa saja kumpul di sana. Dari suasana ini timbul dan banyak sekali kreasi-kreasi di komunitas itu. Bukan tempatnya yang baik, tapi gumbulnya sama kelompoknya itu yang kemudian memberikan kreasi… (tepuk tangan membahana)yang luar biasa.
Pak Fauzi saya usul strategi tadi, maka saat kita di ruangan ini ACnya hidup, biarpun kalau hujan bocor sedikit. Lampunya kita disuguhi suasana yang guyub seperti ini. AC yang dingin, tempat yang teduh ini hanya satu kebahagiaan fisik saja. Phisical hapines seperti ini, keluar sedikit sudah sumuk lagi. Tapi orang kemudian mencari bagaimana kemudian kebahagiaan fisik ini diisi dengan kebahagiaan tentang kecerdasan. Bagimana sebetulnya e orang yang cantik. Orang yang cantik ini saya ekstrimkan ndak apa-apa ya? Bude ya, Bude..?! (hadirin tertawa) Saya ekstrimkan ya Bude,ya? Cantik tapi bodho, ketemu seorang yang pinter tapi buruk muka. Ada beuty and the beast, yang diharapkan oleh orang tuanya dua-dua ini, semoga anaknya itu bagus dan cerdas. Tapi bisa anaknya itu buruk, tapi juga bodho. Maka biarpun di kesenian, biarpun di kebudayaan, kecerdasan seperti yang disampaikan oleh e…Ki Hajar Dewantara, bahwa puncak-puncak kebudayaan nasional adalah puncak-puncak kebudayaan daerah, kita belum menemukan kecerdasan kita merumuskan puncak-puncak kebudayaan daerah. Apa sebetulnya meaning full dari puncak kebudayaan daerah itu? Bukan I Love You Full, meaning full. Apa ini?
Saya berpendapat, biar ada historisnya, ada valuesnya, ada heronya. Misalkan, saya rundingan sama Pak Sek sama Pak Jariyanto, di daerah kita ini ada imperium besar yang namanya Mojopahit. Ada ndak Bedhaya Mojopahit itu? Ada nggak? Apakah kita harus kethokan mosaik kecil-kecil yang belum pernah ditata seperti ini. Apa imperium besar?
Saya kemarin ke Osaka. Orang Osaka kagum dengan Mojopahit. Orang dari Vietnam, Okinawa, kagum. Sekarang kapalnya pergi ke sana. Kapal Mojopahit, dibuat di pulau Sapudi, Kangean Sapudi. Jalan ke sana. Apa yang dikenang tentang tingginya kebudayaan Mojopahit?
Kalau kita kemudian, Pak Fauzi dan temen-temen seperti apa? Ini hanya kalau udun itu hanya pucuknya atau manifesnya. Jadi bedhaya Mojopahit itu hanya titik manifes untuk menangkap substansi besarnya kebudayaan dan seni di Jawa Timur. Seperti apa? La itu yang kemudian akan menjadi perenungan refleksi kita yang pada pembangunan restorasi Mojopahit tahap satu yang insyaallah selesai tahun 2014, inilah budaya besar jaman itu. Ini harus dishearcing, harus dicari. Oleh siapa? Oleh ahlinya, oleh seniman-budayawan seperti apa? Jadi jangan sampai nanti kita mencari lagi seperti yang diharapkan anaknya bagus tapi cerdas. Jangan sampai justru kita cari merusak. Jadi sudah buruk muka bodho. Jangan!
Makanya saya masuk setelah happiness di bidang fisik, harus ditingkatkan hapines di bidang intelektual, yang ketiga happiness di bidang estetika. (tepuk tangan bergemuruh) Jadi di sana kita masuk. Ndak ada gunanya pembangunan di Jawa Timur ini berkembang maju, tidak ada gunanya kemudian berbagai pembangunan fisik dan berbagai anak bangsanya cerdas, tetapi akar budayanya larut. Saya kira bukan itu. Bukan itu yang dimaksud oleh…Oleh pikiran-pikiran yang sekarang berkembang, bahwa negara yang sangat kuat itu adalah kuat di dalam kebudayaan bangsa itu. Buku-buku terkenal yang sekarang ngonceki bagaimana untuk India dan China, Jepang, Korea dia kuat aceapmentnya, rasa bertarungnya kuat itu karena nilai-nilai kebudayaan yang itu digali.
Jangan sampai penggalian kebudayaan ini justru tabrakan merusak dari kebudayaan ini. La saya bisa saja hanya menyampaikan, tapi ahlinya adalah e…Mas Fauzi dan teman-teman. Seperti apa? Tugas kami menyiapkan. Maka usulnya Pak Jariyanto tentang lembaga-lembaga itu untuk disubsidi setuju saya. Setuju, harus! Harus…(tepuk tangan membahana) Harus dilakukan. Harus dilakukan utnuk berkembang, untuk memelihara, untuk memelihara. Tetapi setelah dipelihara bagaimana itu kemudian? Bagaimana masyarakat itu dimaknai menjadi hasilnya, ditanggab oleh masyarakat bagaimana itu? Ini yang saya kira Mas Fauzi CS, mohon betul untuk difikirkan. Kami fasilitasi kok suatu saat.
Tahun lalu kita mencoba jamkesni, jamkesbud. Sudah jalan Pak Wawi? Sudah, berapa itu? Nanti dicek apakah temen-temen ini, karena saya baca tulisan di koran bahwa itu ternyata Pakde itu omong kosong di media. Nanti dicek uangnya sudah ada, tinggal Pak Wawi dengan seniman untuk kerjasama.
Jadi memberikan subsidi terhadap kelompok-kelompok budaya yang pasti secara administrasi terakreditasi oleh kelembagaan. Jangan sampai nanti ndak ada kegiatan, nanti kita bantu. Ini saya kira usul Pak Jariyanto e…sependapat. Ini pikiran-pikiran bagus yang diusulkan.
Yang berikutnya…
Pak Jariyanto dan saya dibisiki Bude tadi, “Ini juara nasional,” saya belum bisa menikmati tariannya, biarpun juara satu. Tapi sebagai penari itu bagus. Jangan sampai biasanya penari itu badannya ramping, tapi kalau lengenne guedhe-gedhe itu kan bukan penari. (hadirin tepuk tangan) Ini bagus, tapi saya narinya belum bisa menikmati. Karena saya aliran konvensional di dalam…Jadi nari iku ya penari. Jangan sampai PGI, Persatuan Gemuk Indonesia…ha…ha…ha…Jadi nari itu ya trincing gitu lo. Nggih Pak Sek,nggih? (hadirin tepuk tangan). Saya dibisiki Bude, la ini penari, ini bagus,ini bagus. Jadi kadang-kadang kita menjadi tidak profesional, karena nggak tegel. Nggak tegel, nggak tegel, nggak tegel. Jadi nari estetika, keindahan itu yang kemudian diletakkan dan kemudian maknawinya.
Oleh sebab itu saya mengusulkan bedhaya Mojopahit itu isinya tiga. Satu isinya selamat datang, kedua syukur, ketiganya membuang sangkal. Jadi jangan hanya tarian buang sangkal saja. Jangan ada tarian syukur saja, jangan ada tarian bermakna selamat datang saja. Tapi tiga-tiganya itu yang mengantar Patih Gajah Mada berperang itu menjadi menang. Acheapmentnya luar biasa karena ditransformasi oleh nilai budaya itu.
Saya kira itu harus segera saya hentikan pidato ini, kalau tidak sulit sekali menghentikan pidato ini. Karena kalau sudah panas nerocos terus. Jadi memang umur-umur se-saya ini sudah, kalau sudah mesinnya hidup, kuncinya dicopot tidak mati-mati…ha…ha…ha…
Terimakasih…terimaksih seniman-budayawan, saya senang betul. Saya dengan Bude tadi dari rumah,”Aku seneng Bude.” Saya pengin dateng betul karena sebetulnya ada dua acara Bude, tapi memilih di sini dan saya ada acara jam delapan, tapi saya tunda semuanya sampai malem…(hadirin bertepuk tangan). Karena saya pengin jadi orang lagi, jangan orang-orangan. Yang membikin orang jadi orang itu (diulang lagi) untuk membersihkan itu adalah seni. Seni yang mengembalikan orang menjadi orang betulan, tidak orang-orangan.
Terimakasih, moga-moga ini menjadi kerjasama kita yang panjang dan mendalam. Hangat, mendalam, dan panjang.
Pak Sek, Gentengkali rumuskan menjadi komunitas seni dan kebudayaan yang bagus. (hadirin tepuk tangan) Dorong, tidak saja HUT, tapi dorong komunitas-komunitas seni kita bantu. Karena insyaallah ee…pendapatan propinsi Jawa Timur naik terus dan itu harus sebagian dinikmati masyarakat kembali. Salah satunya masyarakat seni. (hadirin tepuk tangan) Makasih wassalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh.

*)Penulis adalah ketua Komite Tari Dewan Kesenian Jombang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar